MALANG — Kegiatan KopiLaborasi (Komunikasi, Aspirasi, dan Kolaborasi) yang digelar di area Festival Mbois 11 “Malang Menyala” di Stadion Gajayana, Kota Malang, Sabtu (22/8/2026), sukses menjadi ruang dialog lintas sektor untuk membahas tantangan sekaligus peluang dalam membangun ekosistem digital yang ramah anak.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur tersebut mengangkat tema utama “Membangun Ekosistem Digital Ramah Anak”. Forum ini dirancang sebagai wadah komunikasi, pertukaran aspirasi, sekaligus penguatan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelajar, komunitas, kreator konten, media, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Suasana Festival Mbois 11 yang berlangsung di kawasan Stadion Gajayana turut memberikan warna tersendiri bagi pelaksanaan KopiLaborasi. Forum tidak hanya menjadi agenda sosialisasi, tetapi juga menjadi ruang interaktif bagi peserta untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman mengenai perkembangan dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan generasi muda.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai elemen. Mulai dari kalangan pelajar, konten kreator, perwakilan Dinas Kominfo Kota dan Kabupaten Malang, hingga jajaran Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) se-Malang Raya turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengasuhan di ruang digital atau digital parenting tidak dapat dibebankan hanya kepada orang tua maupun sekolah. Diperlukan sinergi berbagai pihak untuk memastikan anak-anak dapat memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, produktif, sekaligus bertanggung jawab.
Ibu Sherlita Dorong Perubahan dari Screen Time ke Smart Time
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Ibu Sherlita. Dalam sambutannya, Beliau menekankan pentingnya peran aktif seluruh lapisan masyarakat dalam membentuk kebiasaan digital anak-anak.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa lama anak menggunakan perangkat digital atau screen time, tetapi lebih jauh harus diarahkan pada bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi tumbuh kembang dan proses belajar anak.
Pergeseran paradigma dari screen time menuju smart time menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan tersebut. Anak-anak diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan ruang digital untuk belajar, berkarya, berkomunikasi, dan mengembangkan potensi secara positif.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin mudah diakses masyarakat, termasuk generasi muda. Di satu sisi, teknologi memberikan peluang besar untuk pendidikan dan kreativitas. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa tantangan berupa paparan konten yang tidak sesuai usia, informasi palsu, perundungan siber, hingga berbagai risiko keamanan digital.
Karena itu, diperlukan keterlibatan bersama antara keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, media, dan sektor swasta untuk membangun lingkungan digital yang lebih aman bagi anak.
Sosialisasi Platform Perisai Anak
Dalam kegiatan #KopiLaborasi tersebut, peserta juga mendapatkan sosialisasi mengenai Platform “Perisai Anak”, salah satu program andalan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung upaya perlindungan anak di ruang digital.
Sosialisasi ini menjadi bagian penting karena keberadaan platform dan teknologi perlindungan saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan literasi digital masyarakat. Orang tua dan pendamping anak perlu memahami cara mendampingi aktivitas digital anak, mengenali potensi risiko, serta membangun komunikasi yang terbuka mengenai penggunaan teknologi.
Konsep perlindungan anak di ruang digital juga diarahkan agar tidak semata-mata bersifat membatasi. Anak tetap perlu mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi teknologi secara positif, tetapi dengan pendampingan, edukasi, dan pemahaman mengenai keamanan serta etika digital.
Melalui KopiLaborasi, pesan tersebut disampaikan dalam suasana dialog yang lebih terbuka sehingga peserta dapat memahami persoalan digital parenting dari berbagai perspektif.
Hadirkan Perspektif Pemerintah, Media, Perbankan, dan Kawasan Ekonomi
Diskusi panel dalam kegiatan tersebut turut mempertemukan berbagai sudut pandang dari sejumlah sektor. Perwakilan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, TVRI Jawa Timur, serta Australia-Indonesia Centre (AIC) / IA-India Partnership (International Interest) turut memberikan perspektif dalam dialog interaktif.
Kehadiran berbagai sektor tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem digital ramah anak memiliki keterkaitan luas dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Dunia perbankan, misalnya, memiliki peran dalam meningkatkan literasi keuangan digital dan memperkenalkan keamanan transaksi kepada generasi muda. Sementara sektor kawasan ekonomi dan industri dapat berkontribusi dalam pengembangan talenta digital serta membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal berbagai peluang di bidang teknologi.
Di sisi lain, media memiliki tanggung jawab dalam menghadirkan informasi yang berkualitas sekaligus membantu masyarakat memahami perkembangan teknologi secara kritis. Kolaborasi dengan lembaga dan mitra internasional juga dapat memperluas wawasan mengenai praktik baik dalam membangun ekosistem digital yang aman dan inklusif.
KIM Sitirejo Ikut Perkuat Suara Masyarakat
Salah satu unsur masyarakat yang turut hadir dalam KopiLaborasi adalah KIM Sitirejo. Komunitas tersebut diwakili oleh Ibu Ayf Shantiana, yang mengikuti rangkaian kegiatan dan dialog mengenai penguatan ekosistem digital ramah anak.
Kehadiran KIM Sitirejo menjadi bagian dari representasi masyarakat dalam forum tersebut. Sebagai komunitas yang dekat dengan masyarakat, KIM memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi sekaligus menjembatani komunikasi antara pemerintah dan warga.
Partisipasi KIM Sitirejo juga memperlihatkan bahwa literasi digital tidak hanya menjadi agenda lembaga pemerintahan atau institusi pendidikan. Komunitas masyarakat memiliki peran penting dalam meneruskan informasi, mengedukasi lingkungan sekitar, serta mendorong penggunaan media digital secara lebih bijak.
Melalui keterlibatan dalam forum seperti KopiLaborasi, KIM diharapkan dapat membawa kembali pengetahuan dan gagasan yang diperoleh untuk diterapkan di tengah masyarakat, khususnya dalam mendampingi keluarga dan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Pelaksanaan KopiLaborasi di Festival Mbois 11 “Malang Menyala” pada akhirnya menegaskan bahwa membangun ruang digital yang ramah anak membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memiliki peran dalam menyediakan regulasi, program, edukasi, dan fasilitas pendukung. Sementara keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membangun kebiasaan digital anak.
Sekolah, komunitas, media, dunia usaha, serta berbagai lembaga lainnya juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya generasi digital yang cerdas dan berkarakter.
Di tengah pesatnya perkembangan AI dan keterbukaan informasi, kemampuan menggunakan teknologi secara bijak menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga perlu dibekali kemampuan memilah informasi, menjaga privasi, memahami etika komunikasi, serta mengenali risiko di ruang digital.
Melalui forum komunikasi dan kolaborasi seperti KopiLaborasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama berbagai elemen masyarakat berupaya memastikan perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi generasi muda.
Festival Mbois 11 “Malang Menyala” pun tidak sekadar menjadi ruang perhelatan kreativitas dan kegiatan masyarakat. Kehadiran KopiLaborasi di dalamnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa masa depan generasi muda juga ditentukan oleh bagaimana masyarakat hari ini membangun ruang digital yang aman, sehat, edukatif, dan produktif.
Dengan semangat Komunikasi, Aspirasi, dan Kolaborasi, forum tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan anak di era digital bukan hanya tugas satu pihak. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi berkelanjutan, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cerdas, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan dunia digital.
Tags
Sosial masyarakat