WAGIR, MALANG — Rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Merdeka Malang di Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, resmi ditutup pada Senin (31/8/2026). Kegiatan penutupan yang berlangsung di Balai Desa Sitirejo tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Sitirejo, bapak Buwang Suharjah, bersama jajaran pemerintah desa serta para mahasiswa peserta KK. Hadir pula dosen pembimbing lapangan, Dr. Dra. Nanis Hairunisya, M.M., dan Dr. Yustina Ndung, S.Pd., M.Si. Kehadiran para dosen pembimbing turut memberikan makna tersendiri dalam kegiatan penutupan karena menjadi bagian dari evaluasi sekaligus penghargaan atas proses pengabdian yang telah dijalankan mahasiswa selama berada di Desa Sitirejo.
Suasana penutupan berlangsung sederhana, tetapi penuh keakraban. Setelah melalui berbagai kegiatan bersama masyarakat, mahasiswa dan pemerintah desa kembali berkumpul dalam satu forum. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi akhir dari sebuah program akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang berbagai pengalaman selama mahasiswa menjalankan tugas pengabdian di desa.
Pengabdian Mahasiswa Menjadi Jembatan Kampus dan Masyarakat
Kuliah Kerja Nyata merupakan salah satu bentuk kegiatan akademik yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi secara langsung di tengah masyarakat.
Keberadaan mahasiswa di Desa Sitirejo diharapkan dapat memberikan pengalaman sekaligus pembelajaran sosial. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami persoalan masyarakat dari sisi akademik, tetapi juga belajar berkomunikasi, beradaptasi, bekerja sama, dan memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
Bagi masyarakat desa, kehadiran mahasiswa juga menjadi kesempatan untuk membangun interaksi dengan generasi muda dari lingkungan perguruan tinggi. Pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan pengabdian tersebut.
Dosen pembimbing lapangan memiliki peran penting dalam proses tersebut. Dr. Dra. Nanis Hairunisya, M.M., dan Dr. Yustina Ndung, S.Pd., M.Si., mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan kegiatan agar program yang dijalankan tetap berada dalam koridor akademik sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
Penutupan kegiatan kemudian menjadi ruang refleksi atas proses yang telah dilalui. Mahasiswa meninggalkan desa bukan sekadar dengan selesainya kewajiban akademik, tetapi juga dengan pengalaman berinteraksi langsung bersama masyarakat dan pemerintah desa.
Kepala Desa Terima Tanda Kasih dari Dosen
Salah satu momen yang menarik perhatian dalam kegiatan penutupan tersebut adalah pemberian tanda kasih dari dosen pembimbing lapangan kepada Kepala Desa Sitirejo, bapak Buwang Suharjah.
Tanda kasih tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan penerimaan pemerintah desa selama pelaksanaan kegiatan KK Universitas Merdeka Malang. Pemberian tersebut sekaligus menjadi simbol terima kasih karena pemerintah desa telah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan menjalankan kegiatan pengabdian di tengah masyarakat.
Bagi sebuah kegiatan pengabdian, dukungan pemerintah desa merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Pemerintah desa menjadi salah satu pihak yang membantu menciptakan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat serta melaksanakan berbagai agenda yang telah direncanakan.
Tanda kasih yang diberikan dosen kepada kepala desa pun memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pemberian simbolis. Momen tersebut menggambarkan hubungan yang terbangun antara perguruan tinggi dan pemerintah desa selama kegiatan berlangsung.
Di sisi lain, bagi Pemerintah Desa Sitirejo, kehadiran mahasiswa Universitas Merdeka Malang menjadi bagian dari dinamika kehidupan desa. Interaksi yang terjalin selama kegiatan diharapkan tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke lingkungan kampus, tetapi dapat meninggalkan kesan dan pengalaman positif bagi kedua belah pihak.
Berakhirnya Kegiatan, Bukan Berakhirnya Hubungan
Berakhirnya kegiatan KKN di Desa Sitirejo menjadi sebuah titik penutup bagi mahasiswa, tetapi hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat tidak harus berakhir bersamaan dengan selesainya program.
Pengalaman selama berada di desa dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan masyarakat tidak selalu dapat dilihat hanya melalui teori yang diperoleh di ruang kuliah. Ada dinamika sosial, budaya, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari yang harus dipahami melalui interaksi secara langsung.
Bagi pemerintah desa dan masyarakat, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman tersendiri dalam berkolaborasi dengan mahasiswa dan perguruan tinggi. Kolaborasi semacam ini dapat menjadi salah satu bentuk penguatan hubungan antara dunia pendidikan tinggi dengan pembangunan masyarakat di tingkat desa.
Dalam suasana penutupan, pesan yang tersirat bukan hanya tentang perpisahan, melainkan juga tentang pengalaman yang telah dibangun bersama. Mahasiswa membawa pulang cerita dan pembelajaran dari Desa Sitirejo, sementara desa menyimpan kenangan atas kehadiran mereka selama menjalankan kegiatan KK.
Kepala Desa Sitirejo bapak Buwang Suharjah menjadi salah satu pihak yang menerima apresiasi tersebut. Pemberian tanda kasih dari dosen pembimbing menjadi simbol penghargaan atas kerja sama yang telah terjalin sekaligus ungkapan terima kasih atas dukungan pemerintah desa terhadap kegiatan mahasiswa.
Penutupan pada Senin, 31 Agustus 2026, itu akhirnya menjadi momentum sederhana yang mempertemukan unsur kampus dan pemerintah desa dalam suasana penuh keakraban. Dari sebuah program akademik, lahir pengalaman sosial; dari sebuah kegiatan pengabdian, terbangun hubungan antarlembaga.
Bagi mahasiswa, Desa Sitirejo bukan sekadar lokasi pelaksanaan KKN. Desa menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori dengan realitas kehidupan masyarakat. Sementara bagi desa, kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari proses bertukar pengetahuan dan pengalaman.
Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, mahasiswa Universitas Merdeka Malang pun kembali melanjutkan perjalanan akademiknya. Namun, pengalaman selama berada di Sitirejo diharapkan tetap menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan kepekaan sosial mereka sebagai insan perguruan tinggi.
Penutupan KKN tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan semata-mata tentang seberapa lama seseorang berada di sebuah tempat, melainkan tentang nilai, pengalaman, dan hubungan baik yang dapat ditinggalkan setelah sebuah kegiatan berakhir.
Tags
KKN