MALANG — Rabu, 2 September 2026, suasana di Studio Muzike Indonesia, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menjadi ruang bertemunya gagasan tentang masa depan informasi desa. Di tempat tersebut, mahasiswa Program Magister (S2) Universitas Negri Malang (UM) melaksanakan riset mengenai Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sitirejo atas penugasan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Malang.
Kegiatan penelitian tersebut berangkat dari perhatian terhadap meningkatnya grafik pemberitaan KIM Sitirejo. Pergerakan tersebut menjadi salah satu tanda bahwa aktivitas informasi di tingkat desa semakin hidup dan memiliki ruang yang luas di dunia digital. Bagi mahasiswa, peningkatan itu bukan sekadar angka statistik, melainkan pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat desa memproduksi, mengelola, dan menyebarkan informasi kepada publik.
Tiga mahasiswa S2 Universitas Negri Malang yang terlibat dalam riset tersebut adalah Fajrih dari Kalimantan Timur, Dinda dari Dampit, dan Amaria dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan latar belakang daerah yang berbeda, ketiganya hadir untuk melihat secara langsung perkembangan KIM Sitirejo, termasuk pengelolaan informasi, website, serta pemanfaatan berbagai platform digital sebagai sarana komunikasi masyarakat.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Sitirejo. Kepala Desa Sitirejo, bapak Buwang Suharjah, turut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menggali informasi dan berdiskusi mengenai perkembangan KIM di wilayahnya. Kehadiran pemerintah desa menjadi bagian penting dalam penelitian karena keberhasilan komunikasi publik di tingkat desa membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola informasi.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga berinteraksi dengan MZ Anggara dan ibu Shanty. Diskusi yang berlangsung menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai tantangan sekaligus peluang KIM di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi.
Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah edukasi mengenai website KIM dan dunia digital. Website dipandang bukan sekadar tempat menampilkan berita, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi desa, mendokumentasikan kegiatan masyarakat, menyampaikan informasi pelayanan publik, serta membangun identitas Desa Sitirejo di ruang digital.
Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mendapatkan informasi. Informasi yang dahulu hanya beredar di lingkungan terbatas kini dapat menjangkau khalayak yang lebih luas dalam hitungan detik. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi KIM untuk menjadi jembatan antara masyarakat dan dunia luar.
Namun, perkembangan digital juga membawa tanggung jawab. Informasi yang disebarkan melalui website maupun media sosial harus tetap memperhatikan akurasi, keberimbangan, dan kepentingan publik. Produktivitas pemberitaan perlu berjalan seiring dengan kualitas informasi agar kehadiran KIM benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Fajrih, Dinda, dan Amaria, riset di Sitirejo menjadi pengalaman penting untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya mengamati angka dan grafik pemberitaan, tetapi juga mempelajari proses di balik lahirnya sebuah informasi.
Perbedaan latar belakang ketiga mahasiswa tersebut turut memperkaya perspektif penelitian. Fajrih , Dinda dan Amaria .Pertemuan berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan komunikasi digital di desa memiliki karakter yang beragam, tetapi memiliki tantangan yang hampir sama: bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat masyarakat.
Studio Muzike Indonesia, tempat kegiatan berlangsung, pada Rabu itu pun menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan dunia akademik dengan praktik komunikasi masyarakat. Di tempat tersebut, pembicaraan tentang website, pemberitaan, literasi digital, dan masa depan KIM tidak berhenti sebagai teori, tetapi diarahkan pada pengalaman nyata yang terjadi di Desa Sitirejo.
Bagi Pemerintah Desa Sitirejo, berkembangnya KIM dapat menjadi peluang untuk memperkuat keterbukaan informasi sekaligus memperkenalkan berbagai potensi lokal. Setiap kegiatan masyarakat, inovasi, maupun cerita dari desa memiliki nilai ketika didokumentasikan dan disampaikan secara tepat.
Kenaikan grafik pemberitaan KIM Sitirejo pada akhirnya dapat dibaca sebagai tanda bahwa suara desa semakin mendapat tempat di ruang digital. Desa tidak lagi sekadar menjadi objek pemberitaan, tetapi dapat menjadi produsen informasi yang mampu menceritakan dirinya sendiri.
Riset mahasiswa S2 Universtas Negri Malang tersebut juga menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari institusi besar. Perubahan dapat tumbuh dari desa, dari kelompok masyarakat, dan dari orang-orang yang memiliki kemauan untuk belajar menggunakan teknologi secara produktif.
Dari Sitirejo, terlihat bahwa website dan dunia digital dapat menjadi lebih dari sekadar perangkat komunikasi. Keduanya dapat menjadi sarana membangun kepercayaan, memperkenalkan potensi desa, memperluas jejaring, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam arus informasi.
Kegiatan pada Rabu, 2 September 2026, tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami bagaimana KIM dapat terus berkembang di tengah perubahan zaman. Mahasiswa hadir membawa perspektif akademik, sementara masyarakat dan pemerintah desa memberikan pengalaman lapangan yang menjadi sumber pembelajaran berharga.
Pada akhirnya, informasi bukan hanya tentang seberapa banyak berita yang dipublikasikan. Informasi adalah tentang bagaimana sebuah cerita disampaikan, bagaimana kebenaran dijaga, dan bagaimana informasi tersebut memberikan manfaat bagi orang lain.
Terima kasih kepada Bapak Kepala Desa Sitirejo, Bapak Buwang Suharjah, Mz Anggara, Ibu Shanty, serta seluruh pihak yang telah memberikan ruang, dukungan, dan pengalaman dalam kegiatan riset ini. Terima kasih sudah memberikan inspirasi dan pembelajaran berharga tentang bagaimana suara desa dapat tumbuh, berkembang, dan menembus ruang digital.
Tags
KKN