Malang — Suasana Hotel Grand Kanjuruhan Malang pada Rabu, 26 November 2025, dipenuhi semangat kebangsaan ketika kegiatan Sosialisasi Ideologi dan Sejarah Bangsa resmi dimulai. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari unsur pemerintah, organisasi masyarakat, serta perwakilan desa. Kegiatan tersebut bertujuan meneguhkan kembali wawasan kebangsaan, memperkuat ideologi Pancasila, dan membangkitkan kesadaran sejarah terutama bagi generasi muda yang kini berhadapan dengan arus modernisasi serta pengaruh budaya luar.
Acara dibuka dengan **doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Andik Ichwanto, diikuti oleh laporan panitia yang disampaikan oleh Bapak Makarim. Dalam laporannya, panitia menegaskan pentingnya sosialisasi nilai kebangsaan sebagai langkah strategis untuk menjaga jati diri bangsa.
Peran Kesbangpol dan Pembukaan Diskusi
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Malang turut berperan aktif dalam kegiatan ini. Kabid Kesbangpol, Bapak Indra, hadir sekaligus bertindak sebagai moderator sepanjang jalannya acara. Ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini merupakan sarana penting dalam menyatukan pandangan para peserta, serta menjaga agar nilai Pancasila, adat, dan sejarah bangsa tetap mengakar kuat di masyarakat.
Dengan memandu jalannya diskusi, Bapak Indra memastikan setiap narasumber dapat menyampaikan materi secara komprehensif, sehingga peserta memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang pentingnya sejarah, budaya, dan prinsip ideologi bangsa.
Narasumber 1: Menggagas Pelestarian Budaya dan Kesadaran Sejarah
Narasumber pertamaanggota DPRD kabupaten Malang yaitu Faqih Pilihan,, yang menyampaikan materi mengenai sejarah bangsa Indonesia. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui tiga faktor utama:
1. Atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa
2. Perjuangan para pahlawan dan seluruh rakyat Indonesia
3. Musyawarah serta kebersamaan dalam mencapai kemerdekaan
Faqih juga menyampaikan keresahannya terhadap fenomena hilangnya adat dan budaya, khususnya di kalangan generasi Gen Z yang semakin akrab dengan budaya digital modern. Ia mengusulkan agar nanti DPRD Kabupaten Malang menginisiasi aturan untuk menggantikan penggunaan sound horeg pada display acara tertentu dengan tarian-tarian budaya yang lebih mendidik dan menunjukkan identitas bangsa.
Dalam pemaparan sejarah, Faqih turut mengingatkan bahwa kata Indonesia berasal dari bahasa Yunani, yang memiliki arti pulau-pulau yang berada di Samudera Hindia, sebuah istilah geografis yang kemudian berkembang menjadi identitas nasional.
Narasumber 2: Memperkuat Nilai-Nilai Pancasila
Sesi selanjutnya menghadirkan narasumber kedua dari komisi 1 anggota DPRD kabupaten Malang yaitu Bapak Abdul Ghofur, yang memberikan materi mengenai nilai-nilai pokok Pancasila. Ia menekankan pentingnya Pancasila sebagai dasar negara, pedoman kehidupan berbangsa, dan fondasi moral yang harus ditanamkan sejak dini kepada generasi penerus.
Dalam pemaparannya, Abdul Ghofur menjelaskan bahwa sosialisasi ideologi dan sejarah bangsa bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi langkah konkret untuk menanamkan rasa cinta tanah air, kesadaran akan perbedaan, serta kemampuan menjaga keharmonisan dalam masyarakat yang majemuk.
Ia juga mengingatkan bahwa Pancasila harus terus dipahami secara mendalam, bukan hanya dihafalkan. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana generasi muda dapat menjadikan nilai Pancasila sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.
Narasumber 3: Pemberdayaan Desa sebagai Pondasi Pelestarian Budaya
Materi ketiga disampaikan oleh Ibu Paramitha Anggraeni dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang. Ia menguraikan keterkaitan kuat antara sejarah bangsa, budaya lokal, dan pemberdayaan desa.
Menurutnya, setiap desa pasti memiliki adat dan budaya yang menjadi ciri khas sekaligus modal sosial masyarakat. Dalam konteks kewenangan desa, pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pembangunan yang berbasis kearifan lokal.
Ibu Paramitha menjelaskan lima prinsip utama pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat, yaitu:
- Kemanusiaan
- Keadilan
- Kebhinekaan
- Keseimbangan dengan alam
- Kepentingan nasional
Ia juga memaparkan beberapa strategi penguatan budaya dan sejarah di desa, seperti pengembangan kegiatan seni, pelestarian tradisi, dan peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi budaya secara mandiri.
Penguatan Karakter dan Harapan bagi Generasi Muda
Sebagai penutup sesi materi, Bapak Agus Widodo turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya budaya dalam kehidupan masyarakat desa. Ia menegaskan bahwa **budaya tidak akan pernah lepas dari kehidupan bangsa Indonesia**, dan berharap agar seluruh desa di Kabupaten Malang dapat semakin mengembangkan identitas budaya yang dimiliki.
Ia juga menyoroti pentingnya pembentukan LABD (Lembaga Adat dan Budaya Desa) sebagai sarana untuk memperkuat karakter dan nilai-nilai bangsa. Melalui kegiatan yang difasilitasi oleh Kesbangpol ini, ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat semakin kuat demi menjaga kelestarian budaya untuk generasi mendatang.
Penutup: Menghadapi Tantangan Zaman dengan Jati Diri Bangsa
Kegiatan Sosialisasi Ideologi dan Sejarah Bangsa di Hotel Grand Kanjuruhan Malang ini menjadi momentum penting untuk kembali menanamkan kecintaan terhadap Pancasila, sejarah perjuangan bangsa, serta adat budaya lokal. Dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari DPRD, Kesbangpol, DPMD, hingga tokoh masyarakat, acara ini diharapkan mampu membentuk masyarakat yang lebih sadar jati diri, lebih kuat menghadapi tantangan global, dan lebih mencintai budaya bangsa.
Acara diakhiri dengan harapan bersama agar nilai-nilai kebangsaan terus hidup di tengah-tengah generasi muda dan tidak lekang oleh zaman.
Tags
sosial masyarakat