Malang, 25 Agustus 2026 — Potensi hasil perkebunan jeruk di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, terus menjadi perhatian dalam berbagai upaya pemberdayaan masyarakat. Melihat melimpahnya hasil perkebunan jeruk, khususnya di Dusun Bedali, Kelompok 73 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Muhammadiyah Aisyiyah (MAs) menggelar pelatihan pembuatan sabun cuci piring bagi masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan mengedepankan pemanfaatan potensi lokal. Pelatihan tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan baru, tetapi juga mendorong masyarakat, khususnya ibu-ibu, agar memiliki keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Memanfaatkan Potensi yang Ada di Lingkungan Masyarakat
Desa Dalisodo merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Wagir yang memiliki potensi pertanian dan perkebunan. Salah satu komoditas yang cukup dikenal masyarakat setempat adalah jeruk. Keberadaan perkebunan jeruk yang melimpah menjadi peluang yang dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan produktif dan inovatif.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN MAs Kelompok 73 berupaya menghadirkan kegiatan yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat. Pelatihan pembuatan sabun cuci piring dipilih sebagai salah satu bentuk kegiatan pemberdayaan yang diharapkan mampu memberikan manfaat praktis bagi peserta.
Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Melalui interaksi selama pelatihan, mahasiswa dapat mendampingi warga dalam memperoleh keterampilan baru yang relatif mudah dipraktikkan secara mandiri.
Memberikan Pengetahuan dan Keterampilan Baru
Pelatihan yang dilaksanakan pada 25 Agustus 2026 tersebut diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu warga Dusun Bedali. Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sabun cuci piring, fungsi masing-masing bahan, serta tahapan pembuatannya.
Materi disampaikan secara sederhana agar dapat dipahami dan diikuti oleh seluruh peserta. Setelah mendapatkan penjelasan, peserta kemudian diajak untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan sabun cuci piring.
Mahasiswa KKN MAs Kelompok 73 turut memberikan pendampingan pada setiap tahapan. Peserta mulai dari mempersiapkan bahan, melakukan pencampuran, hingga mengikuti proses pengolahan bahan tersebut sampai menghasilkan sabun cuci piring yang siap digunakan.
Pendampingan secara langsung tersebut dilakukan agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktik. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan kembali secara mandiri setelah pelatihan berakhir.
Sambutan Positif dari Masyarakat
Pelaksanaan pelatihan mendapat respons positif dari masyarakat. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan yang diberikan oleh mahasiswa KKN. Suasana kegiatan berlangsung interaktif karena peserta dapat secara langsung bertanya dan berdiskusi mengenai proses pembuatan sabun cuci piring.
Salah satu warga, Bu Sri, menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa KKN MAs Kelompok 73 yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang diberikan dapat membantu masyarakat memperoleh pengetahuan baru yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pelatihan pembuatan sabun cuci piring ini sangat membantu bagi kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kelompok KKN Muhammadiyah Aisyiyah 73 yang telah berbagi ilmu dan memberikan pelatihan kepada masyarakat. Semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Bu Sri.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka selama kegiatan berlangsung. Para ibu mengikuti arahan mahasiswa dan mencoba memahami setiap tahapan yang dipraktikkan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan yang bersifat praktis.
Mendorong Kemandirian Masyarakat
Pelatihan pembuatan sabun cuci piring tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan pelatihan keterampilan semata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan pengetahuan dan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Keterampilan membuat sabun cuci piring dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara mandiri. Pengetahuan yang diperoleh juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif apabila dikelola secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MAs Kelompok 73 berharap peserta dapat mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh serta membagikan pengetahuan tersebut kepada anggota keluarga maupun masyarakat lainnya. Dengan demikian, manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi dapat berkembang melalui proses berbagi pengetahuan di lingkungan masyarakat.
Wujud Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat
Kegiatan pelatihan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa KKN Muhammadiyah Aisyiyah Kelompok 73 kepada masyarakat Desa Dalisodo. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi dalam bentuk kegiatan, tetapi juga mampu menciptakan program yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan warga.
Pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan kegiatan KKN. Dengan mengenali potensi yang dimiliki suatu wilayah, mahasiswa dapat menyusun kegiatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki peluang keberlanjutan.
Pelatihan pembuatan sabun cuci piring di Dusun Bedali menunjukkan bahwa kegiatan sederhana dapat menjadi media untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat. Kegiatan tersebut juga memperlihatkan adanya kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menciptakan aktivitas yang bersifat edukatif dan produktif.
KKN MAs Kelompok 73 berharap kegiatan yang telah dilaksanakan dapat meninggalkan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam hal peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Semangat pemberdayaan diharapkan terus tumbuh sehingga masyarakat dapat mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki untuk mendukung kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya pelatihan tersebut, mahasiswa KKN MAs Kelompok 73 tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi juga turut membangun ruang belajar bersama masyarakat. Pemanfaatan potensi lokal, peningkatan keterampilan, dan semangat berbagi pengetahuan menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kegiatan yang memberikan kebermanfaatan secara langsung bagi warga ungkap Safira Salma salah satu mahasiswa KKN Muhammadiyah Aisyiyah
Pelatihan pembuatan sabun cuci piring di Dusun Bedali akhirnya menjadi salah satu contoh kegiatan KKN yang mengedepankan prinsip pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan sederhana namun aplikatif, Kelompok 73 berupaya menghadirkan pengetahuan baru yang dapat dipraktikkan secara mandiri sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan keterampilan berbasis potensi lokal.
Tags
KKN